Sebuah kisah seorang musafir kelana

Alkisah, ada seorang perantau (musafir) yang bernama datuk tinggal di sebuah kota yang ramai penduduknya.

Suatu ketika setelah beberapa lama tinggal di sebuah tempat tinggal sementara yang berukuran kecil nan sederhana, sang datuk memutuskan untuk pindah dengan menempati rumah barunya. Berhubung lokasinya yang berjauhan dari tempatnya yang sekarang, beliau sangat membutuhkan bantuan orang lain agar bisa membantunya memindahkan semua barang yang dia miliki.

Karena statusnya di kota itu sebagai seorang perantauan, tidak banyak teman ataupun kenalan yang dimilikinya. Padahal pekerjaan memindahkan barang adalah pekerjaan yang cukup berat, bila dikerjakan seorang diri. Guna mengatasi persoalan tersebut, lalu sang datuk memiliki ide untuk meminta bantuan kepada tiga teman yang dimilikinya.

Teman yang pertama, yang merupakan teman yang paling akrab dimana selalu ada di saat ia memerlukan bantuan, ternyata setelah dimintakan bantuannya. Dengan sangat menyesal tidak dapat membantu karena ada suatu keperluan penting.

Setelah itu sang datuk meminta bantuan pada teman keduanya, yang kadang dia ingat, kadang pula ia lupakan. Hanya bila sang datuk memerlukan bantuan tertentu, barulah menghubungi temannya itu. Beruntungnya teman yang kedua ini bersedia membantu, mengangkut barang-barangnya ke atas kendaraan truk, hingga menemaniya selama dalam perjalanan. Akan tetapi teman yang kedua ini hanya dapat mengantarkan sang datuk hingga pelataran pintu halamannya, karena ada keperluan yang lain.

Karena barang-barang yang di dalam kendaraan belum diturunkan dan tidak ada yang membantu sang datuk merapihkan di dalam rumah, lalu beliau memutuskan untuk meminta bantuan teman ketiganya. Teman ketiganya ini adalah teman yang lama sekali sudah tidak bertemu, bahkan mungkin sudah sama-sama melupakan. Beruntungnya lagi, teman yang ketiga bersedia membantu sang datuk. Sehingga semua pekerjaan pemindahan barang selesai dengan baik.

Ada ibroh dari cerita ini yang bisa kita petik, sebuah cerita tentang kesiapan diri.

Kita ibaratkan bahwa kita hidup di dunia yang fana ini suatu ketika akan meninggalkan semua yang kita miliki. Cepat atau pun lambat semua kenikmatan yang kita dapati, akan berganti dengan kesedihan. Kesedihan keluarga, sanak saudara dan teman yang kita miliki.

Tahukah Anda bahwa teman yang pertama digambarkan sebagai harta benda, gelar, pangkat dan kehormatan yang melekat dalam diri kita. Seberapa luas tanah yang kita miliki, seberapa bahagianya keluarga yang dimiliki, seberapa tingginya derajat kehormatan dalam masyarakat. Tetaplah semua itu tidak dapat membantu kita menghadapi hari akhir kelak.

Lalu teman yang kedua yang kadang kita cari, dan kadang pula kita lupakan adalah keluarga kita. Mereka hanya dapat menemani kita hingga ke pemakaman, setelah itu adalah tanggung jawab kita masing-masing pribadi.

Dan teman yang ketiga yang mungkin sudah kita lupakan sejak lama adalah amalan-amalan ibadah yang kita lakukan saat kita hidup di dunia. Hanya dengan amal ibadah inilah, yang bisa membantu kita di hari akhir, (hari perhitungan). Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, bila seorang hamba meninggal dunia, ada tiga amalan yang dapat mengalirkan pahala kepadanya, yaitu ilmu yang bermanfaat, shodaqoh jariyah dan Do’a dari anak yang sholeh.

Bagaimana dengan Anda ?

Sudahkah mempersiapkan sejak dini, amalan ibadah apa yang kira-kira bisa menolong kita di Yaumul Akhir kelak.

Sudahkah kita berbakti pada kedua orang tua, sudahkah kita berbuat baik kepada keluarga, dan sudahkah kita berbuat baik kepada teman-teman kita.

Wallaahu a’lam bish’ showaab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s