Menjadi Orang Bodoh versus Orang Pintar

Menjadi orang bodoh versus orang pintar

Iseng-iseng dengerin radio i-radio di frekeunsi 89,6 FM pagi ini, eh lagi ngebahas topik yang cukup menarik nih..
Mereka lagi ngomongin orang bodoh versus orang pintar, mengulas berbagai macam kelebihan dan kekurangan masing-masing (antara orang pintar dan orang bodoh).
Setelah mendengar semua yang diobrolin, aku jadi ragu. Termasuk jajaran mana sih aku ini. Masuk jajaran orang pintar ataukah masuk jajaran orang bodoh..
Biasa.. sebagian besar orang tidak suka bila dianggap bodoh. Bahkan orang yang benar-benar bodoh pun akan merasa tersinggung bila kita menyebutnya orang bodoh.
Dibilang pintar ya gak pintar, menghitung perkalian tiga digit saja harus pakai kalkulator..
Dibilang bodoh, juga gak maulah dibilang seperti itu. Gengsi dong…

Kalau dipikir-pikir, mengenai orang pintar yang selalu saja menjadi bulan-bulanan orang bodoh. Ya ada benarnya juga..

Berapa banyak orang pintar, yang menguasai salah satu bidang dengan spesifik. Bekerja pada satu orang yang sebenarnya tidak menguasai bidang itu. Contohnya gini, bila saya adalah seorang programmer handal dengan lisensi seabrek, dari mulai microsoft sampe cisco, toh ujung-ujungnya aku berusaha mencari kerjaan di suatu perusahaan. Padahal bisa aja tuh yang punya perusahaan adalah hanya seorang lulusan Sekolah menengah atas, atau bahkan bisa saja tidak sekolah.

Kenapa bisa begitu..?

Yah. Bisa aja hal itu terjadi. Karena untuk memimpin suatu perusahaan, tidak terlalu diperlukan yang namanya gelar kesarjanaan. Yang paling penting adalah jiwa enterpreneurship yang hebat, cepat mengambil keputusan dan pintar mencari peluang. Tidak mesti dia paham betul mengenai bahasa pemrograman yang rumit, tekhnik analisa sistem yang baik dan berbagai disiplin ilmu yang mendukung. Hal prinsipal yang harus dimiliki sebagai seorang enterpreneurship adalah banyaknya relasi dan kemampuan komunikasi yang baik. Toh.. ia cukup mengikuti tender di pemerintahan, bergerak cepat mempersiapkan proposal, setelah itu alihkan saja pekerjaan project-project pada ahlinya. Karena sebagian besar pakar (ahli di bidangnya) tidak pintar mengambil peluang, mereka hanya menunggu peluang datang dengan sendirinya (ya.. mana mungkin lah di jaman seperti sekarang ini). Makanya prinsip siapa cepat dia dapat, dari dulu sampe sekarang masih tetap berlaku. Tambah lagi dengan wejangan dari orang tua, kalau bangun tidur jangan siang-siang nanti rejeki bisa dipatok ayam (jadi malu sama ayam, ayam aja sebelum fajar dah bangun dan membangunkan makhluk lain dengan kokoknya).

Mang Opik lagi-lagi bikin saya jadi terpacu nih, buat mencari relasi sebanyak-banyaknya. Soalnya kata dia “orang sukses” itu sukses bukan karena apa yang ia miliki, akan tetapi karena siapa yang ia miliki. Artinya adalah tak terlalu penting bila kita ini adalah seorang pakar, expertlah di bidangnya dan pendidikannya bahkan hingga gelar doktoral. Semua itu gak ada gunanya bila kita tak memiliki relasi, toh jika orang lain tidak mengenal kita, tetap saja ilmu seabrek yang kita kuasai itu tidak dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Kesannya jadi KKN banget ya, akan tetapi istilah dua K didepannya di hapus aja. Yang tinggal hanya Nepotisme aja, hari gini cari kerja gak pake relasi, ya susah lah.

Pengalaman hidup membuktikan, dari dulu saya ini selalu mendapat peringkat juara kelas pada setiap level education yang saya lalui. Toh.. (lagi-lagi toh) sampai saat ini saya merasa belum puas dengan apa yang saya miliki, bandingkan dengan teman-temanku yang lain, yang tidak kuliah (hanya lulusan STM). Ada yang sudah punya usaha sendiri, dengan penghasilan yang memuaskan (ya memuaskan, karena setalah dibandingkan dengan penghasilan saya, selisaihnya jauh banget). Padahal saya ini sudah susah-susah belajar, berusaha mengejar peringkat juara. Yang saya dapatkan ya sebatas ini, sebatas pengetahuan yang saya miliki. Jikalau saya tidak gunakan ilmu yang saya miliki ini, toh saya akan tetap tertinggal dengan mereka. Beda banget dengan mereka, walaupun ilmu yang mereka miliki lebih sedikit dari yang saya punya, mereka lebih terdepan dengan langsung menggunakan ilmu tersebut dan mengaplikasikannya. Ada yang bisanya Cuma memperbaiki alat-alat elektronik, terus buka wirausaha bengkel elektronik, sampe sekarang bisnisnya itu sudah maju dan memiliki banyak pelanggan. Artinya mereka dapat hidup dengan ilmu yang mereka miliki.

Tahu tidak…
Ternyata selama ini banyak orang yang sukses di belahan dunia, mereka termasuk dalam jajaran orang bodoh. Akan tetapi harap diingat bahwa standarisasi dari sisi mana ia termasuk dalam jajaran orang bodoh atau masuk jajaran orang pintar, dilihat dari gelar kesarjanaan yang telah ia dapatkan. Seperti idolaku Mr. Bill Gates (yang juga merupakan idola banyak orang di seantero jagad ini), tidak menyelesaikan kuliah hukumnya di Harvard University. Bill Gates muda lebih memilih berwirausaha ketimbang duduk berlama-lama di bangku kuliah.

4 pemikiran pada “Menjadi Orang Bodoh versus Orang Pintar

  1. nah lo..saya termasuk yg mana nih..ilmu ga punya usaha juga ga punya..anggap saja aku orang yg bodoh tapi tetep ga mau dibilang goblok..

  2. Saya adalah calon programmer setiap hari saya belajar bahasa pemrograman Java,C/C++,Python,VB

    apakah saya orang pintar ,malah saya merasa bodoh sehingga saya harus belajar terus menerus jadi gimana mas caranya menjadi orang pintar ,setiap hari saya selalu mengupdate skill saya

    tapi tetep saja saya merasa bodoh sehingga saya belajar terus gimana mas menurut pandangan mas sendiri gimana yah supaya jadi orang pintar

  3. waduh saya malh jadi makin bingung,.. mw bilang pinter tapi ilmu masih sedikit, mw di bilang bodoh gk mw dunk kan aq dah susah – susah sekolah ampe ke jenjang PTN.

  4. nananananan
    bodonanananana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s