Menjadi sebuah ingatan…

Tak disangka-sangka, tetanggaku yang tinggal persis di depan rumahku, yang kukenal sejak kecil hingga kini. Pada hari ini meninggalkan dunia yang fana ini. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiuun (Hanya kepada Allah-lah aku mengabdi dan hanya kepada Allah-lah aku kan kembali), hanya kalimat istirja tersebut yang bisa kuucapkan. Moga-moga ku dapat kembali ke hadapan Yang Maha Kuasa dengan ridho ilahi.

Yaa Alloh ampunkanlah dosanya, berikanlah kasih sayangmu padanya, berikanlah kemaafan padanya.

Ku kenal betul bagaimana hari-hari belakangan ini beliau selalu menghabiskan waktunya untuk duduk-duduk di depan serambi rumahnya, dari pagi sampai petang dan terus berlanjut hingga kemarin. Suaminya telah lebih dulu meninggalkannya beberapa tahun yang lalu, kini beliau tinggal bersama dengan anak-anaknya. Sangat tidak diperkirakan sebelumnya, karena kemarin aku masih bisa melihatnya, dan sekarang sudah tidak ada kesempatan itu lagi. Beliau sudah berpulang kepada Yang Maha Kuasa.

Hari ini merupakan hari dimana aku diingatkan kembali betapa sedemikian dekatnya manusia dengan kematian, tidak ada sesuatu apapun dalam bentuk materi yang dapat dibanggakan. Kita hanyalah sebagai seorang manusia biasa yang pada saatnya nanti terpisah antara jiwa dan raga, tidak ada daya dan upaya yang dapat mencegah bilamana ajal itu datang menjemput.

Entah dalam kondisi siap atau tidak siap, semua itu merupakan satu diantara sekian banyak alur proses kehidupan yang harus dijalani. Kelahiran – masa pertumbuhan – menikah – serta berbagai alur proses kehidupan selalu berujung kepada kematian. Yaa… manusia memang tidak dapat luput dari hal yang satu itu. Dalam sebuah film yang menggambarkan bahwa ada segelintir orang yang berusaha untuk mengubah takdir dengan mengulur-ulur waktu kematian, toh semua itu tidak berhasil. karena ajal menjemput dengan cara lain, dengan cara yang tidak dapat digambarkan dengan nalar manusia. Entah ia bisa terselamatkan dari sebuah kecelakaan besar, tetapi ajal menjemputnya bisa saja hanya karena terpeleset sebuah kulit pisang, dalam keadaan sadar atau tidak sadar.

Yaa Alloh siapkah diriku bilamana ajal itu datang menjemputku sekarang, belum banyak amal ibadah yang aku lakukan, bahkan seringkali kemaksiatan dilakukan dalam keadaan sadar atau tidak sadar.

Note:

Berhubung saya jarang melakukan sholat jenazah, perlu kiranya menuliskan tata cara sholat tersebut di dalam artikel ini.

1. Niat
Shalat jenazah sebagaimana shalat dan ibadah lainnya tidak dianggap sah kalau tidak diniatkan. Dan niatnya adalah untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah : 5).

Rasulullah SAW pun telah bersabda dalam haditsnya yang masyhur :

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Setiap orang mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Muttafaq Alaihi).

Niat itu adanya di dalam hati dan intinya adalah tekad serta menyengaja di dalam hati bahwa kita akan melakukan shalat tertentu saat ini.

2. Berdiri Bila Mampu
Shalat jenazah tidak sah bila dilakukan sambil duduk atau di atas kendaraan (hewan tunggangan) selama seseorang mampu untuk berdiri dan tidak ada uzurnya.

3. Takbir 4 kali
Aturan ini didapat dari hadits Jabir yang menceritakan bagaimana bentuk shalat Nabi ketika menyolatkan jenazah.

Dari Jabi ra bahwa Rasulullah SAW menyolatkan jenazah Raja Najasyi (shalat ghaib) dan beliau takbir 4 kali. (HR. Bukhari : 1245, Muslim 952 dan Ahmad 3:355)

Najasyi dikabarkan masuk Islam setelah sebelumnya seorang pemeluk nasrani yang taat. Namun begitu mendengar berita kerasulan Muhammad SAW, beliau akhirnya menyatakan diri masuk Islam.

4. Membaca Surat Al-Fatihah
5. Membaca Shalawat kepada Rasulullah SAW
6. Doa Untuk Jenazah

Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW :

Bila kalian menyalati jenazah, maka murnikanlah doa untuknya. (HR. Abu Daud : 3199 dan Ibnu Majah : 1947).

Diantara lafaznya yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW antara lain :

Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji wal-baradi.

Ada juga artikel lain yg menuliskan:

Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu.

7. Doa Setelah Takbir Keempat
Misalnya doa yang berbunyi :

Allahumma Laa Tahrimna Ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlana wa lahu

8. Salam

Jadi secara urutannya adalah sebagai berikut :
1. Takbiratul Ihram seperti biasa
**Membaca Al-Fatihah
2. Takbir
** Membaca Shalawat kepada Nabi SAW : Allahumma Shalli ‘Alaa Muhamad?
3. Takbir
** Membaca Doa : Allahummaghfir lahu war-hamhu . . .
4. Takbir
** Membaca Doa : Allahumma Laa Tahrimnaa Ajrahu
5. Mengucap Salam

Sumber:   di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s